
Masih SMP Sudah Merokok, Merokok Awal dari Penggunaan NarkobaDi dekat kompleks perumahan saya di Antapani ada sebuah SMP negeri. Anak-anak SMP kalau mau ke sekolahnya sering melewati jalan di dekat rumah saya, jalan pintas gitu. Saya suka memperhatikan kelakuan anak SMP itu. Pada jam-jam belajar di sekolah saya sering melihat sekolompok anak SMP yang membolos. Mereka bukannya belajar di kelas, tapi malah asik nongkong di pos ronda, sebagian lagi main Play Station di rumah tetangga yang ada warung dan rental PS nya (NB: saya paling tidak setuju ada tetangga yang buka usaha PS, sebab membuat anak-anak jadi sering main PS daripada belajar, tapi gimana ya itu hak orang lain mencari usaha, saya tidak bisa protes). Nah, anak-anak SMP yang mbolos itu terlihat asik merokok. Saya tebak-tebak dari seragamnya yang baru pasti mereka masih kelas 1 SMP, baru 2 bulan meninggalkan bangku SD. Anak-anak itu menikmati sekali rokok itu, sebentar-sebentar asapnya dihembuskan ke atas, persis seperti orang dewasa merokok. Gayanya itu lho, seperti sudah pengalaman merokok saja.
Saya yakin pasti mereka merokok itu karena ada kesempatan bebas dan jauh dari pantauan orangtua dan guru. Di rumah mungkin mereka tidak berani merokok karena pasti dimarahi, tapi begitu dapat kesempatan mereka akan melakukannya. Sebagian besar remaja menjadi perokok karena terpengaruh teman. Awalnya coba-coba atau dipanas-panasi teman. Kalau nggak merokok dibilang nggak keren, kurang macho, ketinggalan zaman, anak ingusan, dan lain-lain. Akhirnya, remaja tanggung yang ingin diakui eksistensi di depan kelompoknya terjerumus juga dengan kebiasaan merokok.
Tentang bahaya merokok kita sudah sama-sama mahfum, jadi tidak perlu dibahaslagi. Menurut penelitian yang saya baca (lupa dimana pernah baca), merokok adalah gerbang menuju penggunaan narkoba. Hampir semua pencandu narkoba adalah perokok. Seorang pencandu narkoba di sebuah panti rehabilitasi pernah mengatakan begini: jangan pernah sekali mencoba merokok, karena awal dari kecanduan narkotika dimulai dari kebiasaan merokok.
Benar juga sih kalau dipikir-pikir. Merokok menimbulkan kenikmatan bagi pengisapnya. Mungkin nikotin di dalamnya yang membuat efek nikmat itu. Nah, lama-lama si perokok mungkin ingin mencoba sensasi nikmat yang lebih lagi, maka di dalam batang rokok disisipkan linting ganja atau sejenisnya. Makin nikmat lagi kalau mengisap dilakukan secara bersama-sama. Akhir cerita kita sudah sama-sama paham, sekali memakai narkoba maka efeknya ketagihan yang tidak berkesudahan.
Narkoba bersaudara kandung dengan minuman keras. Pencandu narkoba umumnya adalah peminum. Di Bandung begitu sering saya melihat anak-anak yang masih belia sudah biasa minum minuman keras yang mudah dibeli di warung-warung dan toko swalayan. Anak-anak muda kita sudah dirusak dengan narkoba dan minuman keras sampai ke desa-desa.
Yang lebih mengerikan lagi, para pemabuk dan pencandu mudah terjerumus ke dalam praktek seks bebas. Perempuan dan laki-laki muda yang sudah terjerumus pada kebiasaan buruk itu sering kumpul-kumpul, bicara ngalor-ngidul di tempat kongkow-kongkow. Yang perempuan mungkin pencandu juga atau dijebak dengan minuman keras yang sudah dicampur obat tidur, lalu terjadilah apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan mereka.
Hmmm…saya menyimpulkan, awal dari semua kemaksiatan di atas adalah rokok. Dari rokok –> narkoba–>minuman keras—>seks pra nikah. Memang tidak semua perokok terjerumus lebih dalam seperti arah panah itu, tetapi begitulah yang banyak terjadi.
Karena itu, anak-anak harus kita jauhi dari rokok. Ayah atau ibuya jangan merokok supaya tidak ditiru pula oleh anak (alhamdulillah saya belum pernah merokok sejak dulu kala). Selain itu orangtua juga perlu mengetahui dengan siapa anak-anaknya bergaul, apa kegiatannya, dan lain-lain. Zaman sekarang pengaruh lingkungan sangat dahsyat mempengaruhi anak-anak.
Tentang bahaya merokok kita sudah sama-sama mahfum, jadi tidak perlu dibahaslagi. Menurut penelitian yang saya baca (lupa dimana pernah baca), merokok adalah gerbang menuju penggunaan narkoba. Hampir semua pencandu narkoba adalah perokok. Seorang pencandu narkoba di sebuah panti rehabilitasi pernah mengatakan begini: jangan pernah sekali mencoba merokok, karena awal dari kecanduan narkotika dimulai dari kebiasaan merokok.
Benar juga sih kalau dipikir-pikir. Merokok menimbulkan kenikmatan bagi pengisapnya. Mungkin nikotin di dalamnya yang membuat efek nikmat itu. Nah, lama-lama si perokok mungkin ingin mencoba sensasi nikmat yang lebih lagi, maka di dalam batang rokok disisipkan linting ganja atau sejenisnya. Makin nikmat lagi kalau mengisap dilakukan secara bersama-sama. Akhir cerita kita sudah sama-sama paham, sekali memakai narkoba maka efeknya ketagihan yang tidak berkesudahan.
Narkoba bersaudara kandung dengan minuman keras. Pencandu narkoba umumnya adalah peminum. Di Bandung begitu sering saya melihat anak-anak yang masih belia sudah biasa minum minuman keras yang mudah dibeli di warung-warung dan toko swalayan. Anak-anak muda kita sudah dirusak dengan narkoba dan minuman keras sampai ke desa-desa.
Yang lebih mengerikan lagi, para pemabuk dan pencandu mudah terjerumus ke dalam praktek seks bebas. Perempuan dan laki-laki muda yang sudah terjerumus pada kebiasaan buruk itu sering kumpul-kumpul, bicara ngalor-ngidul di tempat kongkow-kongkow. Yang perempuan mungkin pencandu juga atau dijebak dengan minuman keras yang sudah dicampur obat tidur, lalu terjadilah apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan mereka.
Hmmm…saya menyimpulkan, awal dari semua kemaksiatan di atas adalah rokok. Dari rokok –> narkoba–>minuman keras—>seks pra nikah. Memang tidak semua perokok terjerumus lebih dalam seperti arah panah itu, tetapi begitulah yang banyak terjadi.
Karena itu, anak-anak harus kita jauhi dari rokok. Ayah atau ibuya jangan merokok supaya tidak ditiru pula oleh anak (alhamdulillah saya belum pernah merokok sejak dulu kala). Selain itu orangtua juga perlu mengetahui dengan siapa anak-anaknya bergaul, apa kegiatannya, dan lain-lain. Zaman sekarang pengaruh lingkungan sangat dahsyat mempengaruhi anak-anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar