25 Mei 2009
Deklarasi mega-prabowo
Deklarasi Mega-Prabowo Merahkan Bukit Sampah
JAKARTA - Duet Mega-Prabowo menjadi pasangan terakhir yang mendeklarasikan secara resmi capres-cawapres Pilpres 2099. Meski begitu, jika dibandingkan dengan dua pasangan sebelumnya, JK-Wiranto dan SBY-Boediono, deklarasi pasangan yang diusung PDIP dan Gerindra itu terhitung paling ramai menghadirkan massa simpatisan.
Sekitar 50.000 pendukung kemarin (24/5) menghadiri acara deklarasi Mega-Prabowo di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Bantar Gebang, Bekasi. Sebagian besar simpatisan datang ke TPA dengan baju dan atribut merah (warna khas PDIP dan Gerindra).
Jajaran pimpinan PDIP, Gerindra, dan delapan parpol mitra koalisi lain juga tampak hadir di puncak ''bukit sampah'' sekitar 2 hektare yang sudah diuruk itu. Sesekali aroma menyengat khas sampah menguap ke udara.
Suami Megawati, Taufiq Kiemas, juga datang ke lokasi acara. Tapi, ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDIP itu tidak turun dari mobil karena kondisinya belum terlalu fit. Rabu lalu Kiemas memang baru keluar dari RS Metropolitan Medical Centre (MMC) setelah dirawat seminggu karena kelelahan.
Megawati dan Prabowo tiba secara terpisah. Megawati datang sekitar pukul 15.05, sedangkan Prabowo menyusul 3 menit kemudian. Macetnya akses masuk menyebabkan Prabowo harus menumpang ojek dari pangkalan dua -sebutan untuk gerbang masuk TPA Sampah Sumur Batu. Jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari gerbang masuk TPA Sampah Bantar Gebang yang biasa disebut pangkalan lima. Megawati berjalan kaki dari gerbang pangkalan lima ke lokasi deklarasi yang berjarak sekitar 500 meter.
Kedatangan kedua tokoh itu spontan disambut meriah para pendukungnya. Kondisi nyaris tak terkendali setelah massa mencoba merapat ke arah panggung. Bahkan, bagian depan panggung yang awalnya dipersiapkan untuk media juga dijubeli massa yang kian agresif ingin melihat capres dan cawapresnya dari dekat.
Karena massa mulai tak terkendali, Mega hanya membaca dua paragraf orasi politiknya yang disiapkan secara tertulis. Padahal, secara keseluruhan, orasi berjudul Dari Bantar Gebang Kami Belajar, Dari Bantar Gebang Kami Akan Membangun Kembali Indonesia itu terdiri atas empat halaman. ''Tentunya ini merupakan perjuangan. Apa Saudara-saudara sanggup memberikan dukungan kepada kami? Sebarkan berita ini ke segala penjuru tanah air,'' kata Mega menutup orasi singkatnya.
Dalam pidato itu, Mega hanya menegaskan kesiapan dirinya dan Prabowo maju sebagai pasangan capres-cawapres. Dengan gaya retorik, dia menyebut keputusannya untuk bertarung kembali di Pilpres 2009 didorong harapan dan optimisme rakyat yang terdalam.
''Suara yang kembali memanggil saya, memanggil Mas Prabowo untuk berpeluh bersama rakyat guna membangun kembali Indonesia,'' kata Mega. Prabowo yang mendapat kesempatan pertama untuk berorasi menyatakan siap mengembalikan sistem ekonomi nasional ke tangan rakyat Indonesia. ''Pilihan di depan rakyat sangat-sangat penting, apakah mau melanjutkan sistem yang salah dan tidak berhasil membawa kesejahteraan, atau kita ubah kembalikan ke tangan rakyat,'' katanya dengan berapi-api.
Prabowo tak lupa mengingatkan para pendukungnya untuk memastikan diri tercatat di daftar pemilih tetap (DPT) pilpres. Sebab, setiap suara pemilih sangat berharga dan menentukan pada hari pemungutan suara pilpres 8 Juli mendatang. ''Yang hadir sekarang begitu besar. Ini luar biasa. Tapi, kalian sudah masuk DPT apa belum? Jangan mau kalau kalian tidak dimasukkan ke DPT,'' kata Prabowo.
Setelah berorasi, keduanya secara simbolis memukul kentongan merah berukuran sedang. Seiring itu, sekitar 10 ribu kentongan ikut dibunyikan secara bersama-sama. ''Ini sebagai tanda dimulainya perjuangan bersama rakyat,'' kata anggota DPR terpilih periode 2009-2014 dari PDIP Deddy ''Miing'' Gumelar yang mendapatkan tugas menjadi master of ceremonies (MC).
Miing yang dikenal publik sebagai anggota grup Bagito mengatakan, acara deklarasi itu dihadiri jajaran PPP, PAN, dan PKS Bekasi. Mereka ikut mendukung Mega-Prabowo, meski partainya di level nasional mendukung SBY-Boediono. Faktanya, sejumlah bendera PAN dan PPP dibawa massa.
Acara itu turut dimeriahkan oleh penampilan Edo Kondologit yang membawakan lagu Indonesia Pusaka. Ada juga penyair W.S. Rendra yang membacakan puisi Karawang-Bekasi karya Chairil Anwar. Rendra menyampaikan, dirinya memang tidak masuk parpol mana pun. ''Tapi, saya mendukung Mega-Prabowo. Karena keduanya tidak melanjutkan pemerintahan yang didominasi kekuasaan asing. Keduanya ingin membangun kemandirian, ekonomi kerakyatan berbasis petani, nelayan, dan desa,'' kata Rendra.
Dalam kesempatan itu, sejumlah perwakilan wong cilik dari kelompok pemulung, nelayan, pedagang asongan, petani, dan buruh melakukan dialog singkat dengan Mega dan Prabowo. Salah seorang buruh di perusahaan sepatu, Tri Sulistiawati, menceritakan kondisi pabriknya yang kian sulit dan produksinya terus menurun. Sulis yang sudah bekerja 15 tahun mengatakan khawatir bila sewaktu-waktu harus di-PHK.
''Saya harap Bu Mega dan Pak Prabowo mau meninjau UU Ketenagakerjaan, sistem kontrak, dan outsourcing,'' pintanya. Sayang, tak satu pun jawaban keluar dari mulut Mega dan Prabowo menanggapi permintaan itu. Di akhir acara, dua veteran yang berusia di atas 80 tahun, yaitu Diono dan Usdiana, menyerahkan secara simbolis bendera Merah Putih kepada Megawati. Sementara itu, salah satu puncak bukit juga tampak tertutupi oleh bendera Merah Putih berukuran 70 x 100 meter.
Selain dihibur lima kelompok pengamen jalanan, panitia menyediakan 500 gerobak jajanan rakyat untuk dikonsumsi secara gratis. Di antaranya, ada bakso, siomay, cendol, dan cincau.
Pakar komunikasi dari UI Effendy Gozali yang menjadi salah seorang undangan di acara deklarasi itu menyayangkan materi pidato Mega dan Prabowo yang belum konkret dan isi terasa hambar. Padahal, ungkap dia, dalam acara deklarasi politik, rakyat justru menunggu dan ingin mengetahui janji-janji kandidatnya bila terpilih. ''Sebenarnya, bisa saja, misalnya, berjanji memberikan asuransi kesehatan dan jiwa bagi para pemulung. Bagaimanapun, ini kan konstituen mereka yang lahannya digunakan.''
Truk Sampah Tertahan
Acara deklarasi itu membuat puluhan truk sampah milik Pemprov DKI Jakarta tidak bisa masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang kemarin. Berdasar hasil pantauan Indopos (Jawa Pos Group), puluhan truk dari arah Pekayon, Bekasi, tertumpuk di pinggir Jalan Narogong sampai Pasar Bantar Gebang yang berjarak 2 kilometer.
Truk dari arah Cileungsi juga mengalami penumpukan yang sama. Truk-truk itu berhenti mulai pukul 11.00 hingga pukul 16.00. Sebelumnya, truk tersebut dialihkan ke pangkalan dua Sumur Batu. Tetapi, dalam perjalanannya, seluruh truk tetap tidak diperbolehkan melintas ke jalur itu oleh polisi. "Kita sudah tertahan sejak pukul 11.00 siang Pak, lihat saja seluruh truk berhenti di sini," ujar Matali, sopir truk asal DKI Jakarta. Namun, kata dia, menjelang sore arus berangsur normal.
Sementara itu, Direktur PT Godang Tua Jaya, pengelola TPA Bantar Gebang, Douglas F. Manurung mengatakan, pihaknya sudah mengalihkan lintasan kendaraan yang hendak masuk ke TPA Bantar Gebang. Misalnya, kata dia, untuk pagi jalur masuk truk sampah dialihkan dari pangkalan lima dan keluar melalui pangkalan lima. Untuk siang, jalan keluar masuk memakai pangkalan dua. "Kita sudah atur agar semuanya tidak terhambat," tegasnya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar