
[ Jum'at, 20 Februari 2009 ]
Menlu AS Hillary Clinton Disambut layaknya Kepala Negara
Pagi, dia menjadi bintang tamu sebuah acara musik di sebuah stasiun televisi swasta. Dalam acara tersebut, mantan First Lady AS itu terlihat berbincang akrab di tengah-tengah artis ibu kota.
Setelah itu, Hillary mengadakan pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Rombongan Hillary yang tiba di Kantor Presiden pukul 10.00 disambut secara istimewa. Iring-iringan kendaraan Hillary yang berjumlah 12 mobil masuk ke halaman dalam istana melalui gerbang Istana Merdeka, Jalan Merdeka Utara, layaknya kepala negara.
Perbedaannya, kalau tamu kepala negara diterima di Istana Merdeka, Hillary cukup diterima di Kantor Presiden di antara Istana Negara dan Istana Merdeka. Mobil BMW milik Kedubes AS yang membawa Hillary berhenti tepat di depan teras Kantor Presiden. Begitu turun dari mobil, SBY langsung menyambut dengan semringah.
Hillary yang mengenakan pakaian biru tua itu diterima SBY yang mengenakan setelan jas hitam dipadu dasi biru terang. Dalam pertemuan selama 45 menit tersebut, SBY didampingi Menko Polhukam Widodo A.S., Menko Kesra Aburizal Bakrie, Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati, Mensesneg Hatta Radjasa, serta Seskab Sudi Silalahi. Hillary didampingi Dubes AS di Indonesia Cameron Hume.
Juru Bicara Presiden Dino Patti Djalal menyatakan, SBY menilai pertemuan dengan Hillary sangat wonderful dan productive. Dalam pertemuan tersebut, SBY menekankan pentingnya membangun kemitraan komprehensif antara Indonesia dengan AS. Saat berkunjung ke Washington DC pada Desember lalu, SBY juga menyatakan pentingnya dieksplorasi kemungkinan Indonesia dan AS membangun kemitraan strategis.
Menurut Dino, dalam pertemuan tersebut, Hillary banyak memuji demokrasi di Indonesia. Bagi Hillary, Indonesia adalah model bagaimana Islam, demokrasi, modernitas, dan hak-hak perempuan tumbuh bersamaan secara harmonis. Bahkan, dia mengakui bahwa AS sebagai negara demokrasi juga perlu belajar banyak dari Indonesia.
''Menlu Hillary Clinton menjelaskan, kebijakan politik luar negeri AS sekarang adalah banyak mendengar daripada berbicara. Be a good listener,'' katanya saat konferensi pers setelah pertemuan SBY-Hillary di Kantor Presiden kemarin.
Pembicaraan Hillary dan SBY terdiri atas tiga cluster isu. Yakni, masalah bilateral, regional, dan internasional. Tentang hubungan bilateral, dibicarakan perlunya menjaga momentum kerja sama ekonomi kedua negara. Perdagangan Indonesia-AS tahun lalu mencapai USD 20,1 miliar dengan investasi USD 10,6 miliar atau peringkat ke-13 dari daftar investor di tanah air.
Selain itu, SBY menekankan peningkatan kerja sama di bidang pendidikan. ''Presiden berharap lebih banyak orang Indonesia belajar ke AS,'' ujarnya.
Untuk isu regional, SBY menyatakan perlunya AS mengambil peran leadership dalam masyarakat internasional untuk menghasilkan konsensus global baru menjelang COP 15 tentang climate change yang diadakan di Denmark, Desember tahun ini.
Masalah konflik Israel-Palestina juga menjadi salah satu isu. SBY menuturkan, gencatan senjata saat ini masih labil, sehingga perlu dibuat secara berkesinambungan. Posisi Indonesia adalah mendukung two state solutions, yakni Israel dan Palestina bisa hidup berdampingan sebagai dua negara secara damai.
Di sela pertemuan, SBY kembali menegaskan undangannya kepada Presiden AS Barack Hussein Obama untuk datang ke Indonesia. Pemerintah menjamin mantan siswa SDN 01 Menteng itu bakal mendapat sambutan hangat. ''Presiden menyatakan, jika datang ke Indonesia, Obama akan disambut rakyat Indonesia dengan hangat dan penuh kegembiraan. Obama kan anak Menteng,'' ujar Dino.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar