02 Februari 2009

kehidupan palestina pasca perang


Kehidupan Warga Palestina di Jalur Gaza Pascaperang
Belanja Roti Gandum Harus Jalan Empat Kilometer

Kehidupan tidak pernah mudah bagi warga Jalur Gaza. Perang selama sekitar tiga pekan dengan Israel semakin memperberat hidup. Hancurnya infrastruktur akibat pengeboman musuh menggenapi penderitaan akibat blokade yang sudah berlangsung sekitar dua tahun.

KARDONO SETYO, Gaza City

MALAM hari adalah saat yang sulit bagi Ahmad, penghuni kompleks perumahan di kawasan Jabaliya. Kawasan itu termasuk yang paling parah menjadi korban perang. Listrik sering mati, sehingga kalau berjalan harus hati-hati, karena jalan di kawasan itu pun bolong-bolong akibat muntahan bom saat perang.

Makanan pokok juga susah didapat. Bahkan, untuk mencari roti buat makan malam, karyawan imigrasi Palestina di Jalur Gaza tersebut harus berjalan kaki empat kilometer. ''Makanya saya membeli langsung dalam jumlah banyak,'' kata Ahmad ketika ditemui Jawa Pos pada Kamis (29/1) malam lalu.

Dia kemudian menunjukkan satu bungkus besar roti ish. Roti gandum yang menjadi makanan pokok orang Arab itu dibeli seharga 15 sheqilam (baca: sekel, mata uang Israel yang berlaku di Gaza). Padahal, sebelumnya hanya 7 sekel (satu sekel setara dengan sekitar Rp 3 ribu).

Ketika di rumah, keluarga Ahmad hanya bisa bercengkerama dalam gelap. Satu-satunya penerangan di rumah yang sepertiganya rusak itu adalah dua cahaya lilin. ''Mereka (Israel) membuat hidup semakin sulit. Jangan salahkan kalau kami terus melawan,'' katanya.

Ahmad pantas marah karena salah satu anaknya, Naseem, 15, ikut tewas terkena bom di dekat rumahnya pada 8 Januari lalu. Hingga kini dia belum menerima bantuan apa pun dari pihak luar. ''Kami hanya mendapat bantuan seadanya dari Islamic Centre (sebuah organisasi sosial milik Hamas di Jalur Gaza, Red),'' tuturnya. Karena Hamas memang tak punya uang banyak, bantuan yang diterimanya hanya USD 1.000 atau sekitar Rp 11 juta.

Ahmad tak sendiri. Boleh dikatakan 1,5 juta jiwa penduduk Gaza memang menderita. Sejak diembargo habis-habisan oleh Israel (dan secara tak langsung oleh Mesir dengan menutup perbatasan Rafah) pada 2006 lalu, penduduk di Jalur Gaza memang betul-betul hidup dalam kekurangan. Lebih-lebih setelah serangan 22 hari Israel pada Januari lalu.

Ekonomi tak berputar lancar dan pendapatan juga tak menentu. Bahkan, pegawai negeri pun sering tak terima gaji. Seperti yang dialami Naseer. Pria yang sehari-hari bertugas sebagai polisi itu sudah delapan bulan tak menerima gaji. ''Per bulan saya seharusnya mendapat 1.000 sekel,'' katanya.

Untuk hidup, sehari-hari Naseer hanya mendapat ransum makan dari kantor. Kendati demikian, bukan berarti semangatnya merosot. Dia tetap dinas dan menjalankan tugas. ''Semuanya gara-gara Israel,'' kata pendukung Hamas itu.

Penduduk Gaza memang pantas nelangsa. Harga-harga barang membubung tinggi. Ikan segar, misalnya, yang biasanya hanya 10 sekel mendadak menjadi 35 sekel (sekitar Rp 100 ribu) per kilogramnya. Harga daging juga melambung tinggi. Dari yang semula 25 sekel menjadi 40 sekel.

Seperti yang dialami Jawa Pos, harga makan dua kerat daging -lengkap dengan roti dan sayur serta secangkir teh hangat- di sebuah warung sederhana pinggir jalan Jalur Gaza adalah 15 sekel. Untuk porsi dengan isi yang sama (nasi campur dengan lauk daging) di Surabaya di warung pinggir jalan tak sampai Rp 10 ribu.

Yang menjadi masalah adalah elpiji. Berbeda halnya dengan kelangkaan elpiji di Indonesia (yang lebih karena salah urus), kelangkaan gas di Jalur Gaza memang karena betul-betul barangnya tidak ada. Kalaupun ada, harganya pun di luar kewajaran. Satu tabung elpiji kosong dijual USD 150 (lebih dari Rp 1,65 juta). Sedangkan harga elpiji ukuran 12,5 kg mencapai 60 sekel (sekitar Rp 180 ribu).

Demikian pula pulsa ponsel sangat mahal di Palestina. Satu-satunya operator ponsel di Palestina, Jawwal, tarifnya pun tinggi. Untuk lokal, biayanya 1 sekel per menit. Harga kebutuhan harian pun melonjak.

Beban itu semakin bertambah berat bagi para mudammar (orang yang rumahnya hancur terkena bom). Abdullah Muhamad, misalnya. Rumahnya di Beit Hanoun hancur lebur diterjang buldozer Israel saat meratakan jalan bagi tank-tank Merkava untuk melintas. ''Padahal, rumah itu hasil menabung 13 tahun saat saya merantau di Arab Saudi,'' ucap pria 52 tahun yang juga salah satu anaknya tewas ditembak tentara Israel tersebut.

Celakanya, rumah tersebut tak bisa segera direnovasi. Sebab, hampir mustahil mendapatkan bahan material bangunan. Mesir dan Israel hanya membatasi bantuan bahan makanan dan obat-obatan dulu yang bisa masuk.

Abdullah sendiri memperkirakan untuk membuat rumah tingkat duanya menjadi kembali utuh butuh biaya lebih USD 100 ribu. Lalu, bagaimana merenovasinya? Abdullah Muhammad angkat bahu. ''Saya tak tahu,'' tuturnya.

Kondisi itu diperparah dengan ketiadaan pekerjaan yang layak bagi para pencari kerja. Praktis, semua sektor riil di Jalur Gaza 90 persen lumpuh. Hingga Jumat (30/1) lalu, masih banyak warung yang tutup. Toko pun hanya sebagian yang buka.

Satu-satunya jenis pekerjaan yang tersedia adalah terkait dengan masalah krisis ini. Seperti relawan, pengantar para wartawan maupun relawan, dan para pekerja media. Semua penduduk di Gaza City kalau tidak menjadi perawat, relawan tim medis, ya menjadi guide dan sopir.

Menurut Mahmood Said, salah satu relawan perawat, dia mendapat upah USD 300 per bulan. Karena masih bujang, Mahmood tak terlalu pusing. Namun, tetap saja uang yang diterima itu pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. ''Meski saya masih bujang, uang sebesar itu mepet,'' urainya.

Menurut dia, seorang bujangan idealnya mempunyai pendapatan di atas USD 500. Sebab, biaya hidup di Jalur Gaza tinggi. ''Itu sudah bisa sewa flat, menabung, dan hidup pas-pasan,'' tuturnya.

Mahmood berharap sekali proses rekonstruksi segera selesai dan perikehidupan kembali normal. Namun, harapan Mahmood tampaknya bakal sulit kesampaian. Sebab, Mesir justru menutup perbatasannya dengan Palestina mulai Kamis (5/2) mendatang. Artinya, warga Jalur Gaza harus hidup dalam keterasingan seperti dulu lagi. (el)

Tidak ada komentar: